Kaki Gunung Soputan

Para Pejuang / Pemerhati Budaya Minaesa-Minahasa Land bersama dengan Tonaas Suku Tonsawang.

Wa'i Lesung i Nawo / Ratu Oki

Lesung ini merupakan sebagai Identitas anak Suku Tonsawang / Toundanouw.

Sumur Abur

Salah satu situs Budaya yang berada di Suku Tonsawang / Toundanouw.

Senin, 22 Juni 2015

Hal Yang Harus di Perhatikan Saat Mengunjungi Pantai

Dalam Postingan saya kali ini akan membagikan salah satu kebiasaan orang Tua yang ada di Suku Tonsawang/Toundanouw yang berhubungan dengan berliburan / bersantai bersama keluarga di Pantai (Pante). Namun hal yang akan saya uraikan ini hanyalah merupakan gambaran saja, bagi yang mau coba ...... silahkan saja dan yang tidak mau ngak apa-apa juga.

Biasanya saat hendak bersantai bersama keluarga di pantai tidak lepas dengan mengikut sertakan anak-anak, baik yang masih bayi maupun Balita. Namun seringkali terjadi saat hendak pulang dari bersantai, Anak-anak yang diikut sertakan tadi tiba-tiba menangis, dan setibanya dirumah seringkali sakit panas. Dan hal ini bila di Daerah Suku Tonsawang adalah hal yang tidak lasim lagi atau bisa dikatakan sudah biasa bagi setiap orang tua yang lalai menerapkan nasehat orang tua mengenai "Hal-hal yang harus diperhatikan saat mengunjungi pantai".

Bagi Sebagian besar masyarakat Suku Tonsawang/Toundanouw masih saja mengunakan cara lama bila selesai mengunjungi pantai dengan membawa serta anak-anak kecil, yaitu : Pada saat hendak pulang, biasanya nama-anak-anak dipanggil dahulu dengan mengatakan "Mari pulang". Dapat saya contohkan seperti ini : Misalnya anak yang kita bawa serta bernama Samson.... Ucapan yang harus dikalimatkan seperti ini ; "Samson mari pulang" (dengan memanggil nama samson berkali-kali Minimal 3 x). Dari penuturan salah satu Orang Tua mengatakan bahwa "Bila anak-anak dibawa kepantai maka mahluk astral yang berada dipantai seringkali senang bermain dengan anak kecil, jadi saat hendak pulang dan namanya tidak dipanggil, hal tersebut dipercaya bahwa jiwa anak tersebut masih berada dipantai " dan dapat menyebabkan anak-anak sakit panas, dll.

Itulah salah satu kebiasaan lama Orang Tua yang berada di Suku Toundanouw/Tonsawang, dan hal ini masih saja dipercayai, namun hal ini tergantung dari pembaca sendiri apakah ingin dipercaya atau tidak, karena tujuan postingan saya hanyalah mengupas kebiasaan-kebiasaan Orang-Orang Tua Jaman Dahulu di Daerah Suku Toundanouw/Tonsawang.

Selasa, 16 Juni 2015

Pall Beach

Pall Beach atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Sulawesi Utara dengan Pante Pall adalah tempat yang sangat indah pemandangannya dimana pantai tersebut memiliki pasir putih serta ramai dikunjungi disaat hari libur bahkan dihari-hari biasa (Hari Kerja). Pantai Pall ini terletak di Desa Marinsow Kec.Likupang. Pantai ini sering sekali bermunculan di status facebook maupun BBM, sehingga membuat orang yang melihat foto-foto pantai pall ini di status Facebook/BBM, membuat suatu rasa penasaran bila tidak menginjakkan kaki dipantai tersebut.

Bila yang belum pernah mengunjungi Pantai Pall ini, dan memiliki kerinduan untuk berkunjung sangatlah baik mengetahui dahulu bagaimana keadaan dilokasi pantai tersebut. Dan saat ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengunjungi pantai ini, semoga saja pengalamanku ini menjadi suatu masukan bagi pengunjung yang ingin bersantai dipantai ini. Saat saya bersama keluarga mengunjungi Pantai Pall ini kondisi cuaca waktu itu hujan, dan saat hendak memasuki jalan menuju pantai tersebut saya harus melewati Pos yang dijaga oleh orang yang menagih iuran masuk ke Pantai Pall, dan saat hendak masuk saya harus membayar Rp.10.000 karena saat itu saya membawa mobil, dan setelah melewati jalan yang bergelombang akhirnya saya dan keluarga tiba dipantai Pall, dan pada saat itu hujan masih turun dengan pelan, dengan melihat begitu banyak tenda yang dibangun disekitar pantai, maka dengan senangnya saya dan keluarga langsung berteduh. Tak lama kemudian datang seorang Ibu yang berusia sekitar 40-an, menawarkan Pisang Goreng dengan harga sepiring Rp. 15.000,- selanjutnya saya memesan 2 (dua) piring dan segelas Kopi Panas yang dibandrol dengan harga Rp. 5000/gelas. Sambil menikmati indahnya pantai, anak-anakku tersayang mulai mengajak mandi dipantai, sekitar 2 jam menikmati air laut sambil mengabadikan kegiatan keluargaku tersebut melalui foto bareng, selfie, dll. Selanjutnya saya mengajak anak-anak untuk ganti pakaian, namun sebelumnya saya harus membeli air bersih untuk dipakai membilas, dan air tersebut dijual dengan harga Rp.5000/ember. setelah selesai dan hendak pulang, tiba-tiba datang Ibu yang tadi meminta uang tambahan untuk membayar tenda yang saya gunakan tadi untuk berteduh, dan dalam pikiran saya berkata ah kirain gratis ternyata dibayar juga. Kemudian sang Pemilik tenda tersebut meminta uang sebesar Rp.50.000,- dan tanpa tawar menawar saya langsung memberikan uang tersebut.

Dari pengalaman saya tersebut diatas, maka saya menyarankan agar bila hendak berkunjung ke pantai tersebut jangan lupa membawa uang lebih, karena uang sangat dibutuhkan di pantai tersebut. Semoga saja Lokasi Pantai Pall ini semakin diperhatikan sehingga dapat menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai.






Selasa, 09 Juni 2015

Galeri Foto ; Lesung Batu di Desa Silian

Lesung batu kali ini saya temukan di Desa Silian Satu Kec.Silian Raya Kab.Minahasa Tenggara, saat ditemukan kondisi lesung sudah pecah/terbelah dua dan memprihatinkan karena berada di halam belakang rumah penduduk serta didekat Sumur Tua dan WC yang sudah tidak dipakai. Menurut cerita tuan tanah lokasi lesung ini, menuturkan bahwa "pada saat dilakukan acara dirumah dan hendak memasak, maka lesung ini dijadikan alas untuk memasak "Pakey", dan sementara memasak lesung batu ini langsung pecah / terbelah dua". Adapun cerita lain tentang lesung ini menurut Tua-tua bahwa " Lesung Batu ini memiliki hubungan dengan Lesung yang berada di Perkebunan Balao Kec.Touluaan Kab.Minahasa Tenggara atau bisa dilihat di sini. Kedua pemilik (Nawo/Dotu) lesung tersebut adalah suami istri, yang di Desa Silian Satu adalah (Istri) dan yang di Perkebunan Balao adalah (Suami)".







 

Selasa, 02 Juni 2015

Situs Budaya Ratu Buaya

Pada postingan saat ini adalah tentang suatu batu yang berbentuk buaya atau sejenis Mahahama yang dikenal dengan Ratu buaya. Lokasi Situs berada di Desa Tombatu Tiga Jaga IV Kec. Tombatu tepatnya di Toule'beng. Menurut cerita Orang Tua bahwa dulunya batu ini berada diatas bukit dan bukit ini satu dengan bukit yang berada di Kawah hingga di PLN yang berada di Desa Kuyanga, namun pada tahun 1932 bukit yang ada di Toule'beng jatuh kebawah/masuk kedalam (tertanam) atau dalam bahasa Tonsawang dikenal dengan Behawawag, dan tanda dari masuknya bukit ini yaitu dapat dilihat dari jalan raya antara Jembatan Lolumbo dan Jembatan Kawah, bila diperhatikan dengan baik maka akan kelihatan jalannya bergelombang atau menurun.

Pada gambar dibawah ini adalah keadaan situs pada waktu ditemukan, dan pada tanggal 02 Juni 2015 sekitar jam 08.00 wita telah diadakan penggalian disekitar situs dan dalam kegiatan penggalian tersebut dihadiri oleh Hukum Tua Tombatu Tiga, Tokoh Adat, Disparbud Mitra, Pemerhati Budaya Tonsawang serta Pemilik Tanah lokasi situs. Meskipun belum maksimal penggalian tersebut namun sudah kelihatan ada kepedulian dari masyarakat mengenai situs-situs budaya yang ada di Suku Toundanouw/Tonsawang.




Opa dan Omaku Tersayang

Ini merupakan tempat peristirahatan terakhir dari kedua orang tua ayah saya, Oma dan Opaku ini adalah sosok yang memiliki andil dalam sejarah penyebaran Injil di daerah Suku Tonsawang lebih khusus dalam penyebaran ajaran GPdI.















Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More